Perjalananku Di Kawasan Wisata Ziarah Solear

 
 Solear adalah nama sebuah desa yang terletak di kecamatan solear kabupatan Tangeang Banten. Di sini terdapat satu wisata Ziarah yang cukup terkenal. Lokasinya yang jauh dari keramaian membuat kawasan wisata ini masih asri dan alami. Salah satu daya tarik tempat wisata ini adalah makam Syech Mas Masad, yang merupakan panglima perang Kesultanan Cirebon. Maka Syech Mas Masad ini, sering dikunjungi para peziarah. Di tempat ini juga terdapat makam kramat lain, seperti Mayangsari, Nyimas Gandasari dan Raden Mangkubumi, tokoh kerajaan Padjajaran. Lokasi makam kramat Solear ini masih terjaga keasriannya, karena masyarakat sekitar tidak berani menebang pohon. Mereka percaya orang yang menebang pohon akan jatuh sakit atau menjadi tidak waras. Lokasi makam kramat Solear ini juga menjadi tempat berkembang biak monyeT ekor panjang.



Sungai Cidurian yang melintasi kawasan wisata ini juga menambah keindahan pemandangan. Monyet-monyet disini jinak dan akan menghampiri pengunjung yang datang. Mereka tidak akan pergi sebelum diberi kacang, yang banyak dijajakan para pedagang. Untuk melihat monyet yang berkeliaran bebas harus menyusuri sungai dengan menggunakan sampan. Semakin banyaknya populasi monyet di tempat ini harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah Kabupaten Tangerang. Karena bila tidak, monyet-monyet ini dapat mengganggu masyarakat.

Monyet yang lapar akan mendatangi rumah penduduk sekitar, dan merusak kebun pisang dan tanaman palawija milik warga. Setelah beberapa saat berjalan mengelilingi kawasan ini saya berhenti di salah satu tempat pedagang yang menjajakan minuman. Panggil saja ibu eti. Dia hampir tiapa hari berjualan minuman di kawasan ini, dan obrolan has pengunjung dan pedagang pun berlanjut. Saya sempat menanyakan dari kapan monyet monyet ini ada, katanya sudah dari dulu dan tidak ada yang tau persis sejak kapan monyet ini ada, cuma kata beliau monyet monyet ini adalah peliharaan buyut buyut yang pertama kali menempati kampung ini. Saya juga menanyakan makam siapa saja yang paling sering di ziarahi oleh para pengunjung, makam Shech Mas masad lah yang paling sering di kunjungi oleh peziarah yang letaknya di depan. Tapi beberapa saat yang lalu artis nirina (pelawak) pernah ziarah di makam Nyai mayang sari. Dari situ saya langsung tertarik dengan makam yang satu ini. Saya mencoba menggali siapa sebenarnya Nyai mayang sari ini, tidak ada informasi banyak dari ibu eti, dia cuma menunjuk ke salah satu sudut yang terdapat pohon besar dan tidak rimbun lagi daunya, tetapi pohon ini tetap hidup. Melihat arah yang di tunjuk dalam hati berdesir juga, karna melihat tempatnya menyendiri memisah di antara makam makam yang lain.

Bila ingin menuju ke arah makam ini harus melewati semak semak yang lebat dan pepohonan yang besar. Karna di dorong rasa penasaran saya pun melangkahkan kaki ke arah makam tersebut. Selama menuju ke makam ini banyak monyet yang mengikuti saya. entah kenapa ketika sudah mendekati makam monyet ini pada berhenti dan memilih memanjat pohon di sekitarnya. Tempatnya yang agak menyendiri, dan turun sedikit menyusuri pinggiran kali di atasnya membuat sedikit merinding. Pelan pelan saya mendekati makam ini, dalam benak masih penasaran siapa sebenarnya tokoh yang ada di pusara ini. setelah terdiam beberapa saat di sekitar makam ini tidak lupa mengabadikanya gambar di Hp. Di saat sedang mengambil dari beberapa sisi saya di kejutkan oleh bapak bapak yang sedang mencari kayu bakar di sekitar makam ini. Walaupun tadinya kaget tapi ahirnya suasana hening menjadi bersahabat karna obrolan kami. Saya langsung menghampiri bapak ini. setelah beberapa obrolan umum lainya, kembali pertanyaan tentang makam ini saya lontarkan. Sama seperti ibu eti tadi, tidak ada informasi ataupun cerita jelas mengenai siapa tokoh ini dan sejak tahun berapa makam ini berada. Tetapi sebelum bapak ini bercerita sedikit beliau sempat memegang batu nisan dan melafadzkan doa doa. Menurut beliau, makam Nyai mayang sari dulunya tidak di sini. tetapi agak di bawah dan lebih ke pinggir, jadi seolah olah susah untuk di jangkau.
Ada beberapa orang yang mencoba memindahkan batu nisan ini, termasuk juru kunci , tetapi selalu kembali ke asalnya dan anehnya tiap ada yang memindahkan nisan ini mereka akan sakit dalam beberapa hari. Bila saya tidak salah dengar (nama), bp erwan lah yang berhasil memindahkan batu nisan ini ke tempat nya yang sekarang ini. Sambil cerita tentang masa dulu, Ternyata Nyai mayang sari ini masih keturunan dari trah kerajaan cirebon. tetapi lagi lagi detail sejarahnya tidak bisa di ceritakan oleh beliau. Dan bapak pencari kayu yang saya ajak berbincang itulah yang bernama bp. Erwan. di ahir pembicaraan kami beliau cuma bilang "HATI HATI MAS".
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Mari berbagi informasi

Find Us On Facebook

Test Footer 2

Popular Posts